Perkenalanku dengan LaTeX

Anak matematika tidak menggunakan LaTeX untuk menulis skripsi dan presentasinya adalah "penyakit masyarakat matematika".


Awalnya kangen kepada murid bernama Adit yang sekarang sudah menjadi dosen Matematika di ITB. Mencoba mencari tahu lewat internet, kepada Google meminta mencari "Adit dosen matematika ITB". Muncul beberapa informasi salah satunya alamat https://adit38.wordpress.com/. Saya kunjungi alamat itu. Setelah ditelusuri ternyata itu Adit yang lain.

Tetapi webnya menarik. Pada kategori matematika ada tulisan berjudul "Menulis Rumus Matematika di Wordpres Bag. I". Tulisan itu menerangkan bagaimana menulis rumus matematika dengan LaTeX. LaTeX, apa itu? Software-kah?

Saya tidak mengetahui LaTeX sama sekali. Saya kaget saat membaca satu alinea. Begini isinya.

"Memalukan!" demikian kata dosen saya bernama Johan Matheus Tuwankotta, tapi saya keukeuh ga mau belajar latex karena pake word saja udah bagus kata saya. Tapi dosen saya yang biasa dipanggil pak Theo tetep mengatakan anak matematika ga pake latex untuk nulis skripsi dan sekaligus presentasinya adalah "penyakit masyarakat matematika" hehehe....

LaTeX, Saya sama sekali belum pernah mengetahui. Saya tidak mau menjadi penyakit masyarakat matematika. Saya harus mencari tahu tentang LaTeX.

Mau belajar LaTeX? Mudah, Google selalu siap melayani mencarikan bahan-bahan untuk mempelajari LaTeX. Bahan-bahan untuk dipelajari sudah saya dapat. Saya membacanya. Dibaca satu per satu. Dibaca lagi. Ternyata tidak mudah. "Menyerah sajalah!" bisik duta putus asa. Tidak. Saya tidak boleh menyerah dan tidak mau menjadi penyakit masyarakat matematika.

Beruntung ada LyX Document Processor. Mempelajari LaTeX menjadi lebih mudah. LyX adalah aplikasi antar muka yang menggabungkan kemampuan pengolah kata dan pengolah dokumen serta kekuatan dan fleksibilitas dari TeX/LaTeX. Pengolahan dokumen LaTeX pada dasarnya pemrograman. Terdapat banyak TeX editor diantaranya Kile, Texmaker, dan Texworks. LyX dapat berfungsi sebagai TeX editor. Tampilannya LyX terlihat seperti pengolah kata bersifat WYSIWYG. Layaknya editor bahasa pemograman, LyX juga memenuhi WYSIWYM. Menggunakan LyX sambil belajar script LaTeX. Pada LyX, apa yang sudah ditulis dapat dilihat script LaTeX-nya. Mempelajari LaTeX menjadi lebih mudah, tetapi tidak berarti mudah.

Saya senang ketika ada murid yang membuat laporan menggunakan LaTeX. Saya tersenyum girang, ketika ada anak menggunakan Beamer, yaitu document class pada LaTeX untuk membuat dokumen presentasi. Saya senang karena beberapa hal.

Saya senang, karena dengan menggunakan LaTeX untuk pengolahan dokumen berarti membiasakan bekerja dengan cara yang halal. Dalam hal ini, Pemerintah sudah peduli. Pada tanggal 30 Maret 2009 terbit Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS).

Saya senang, karena dengan menggunakan LaTeX layak masuk komunitas masyarakat matematika. Senang menyaksikan murid menggunakan LaTeX. Mereka tentu mengalami apa yang saya alami dalam mempelajari LaTeX, rumit. Saya tersenyum lega ketika mereka mengatakan, "Bapak sempat bilang, Bapak saja yang sudah beruban masih mau belajar, apa kata dunia kalau kami tak tergerak untuk belajar. Sekarang kami sudah mengenal LaTeX".


Tulisan ini dimuat di https://www.kompasiana.com/ekadjuniar/perkenalanku-dengan-latex_54f937b7a33311f4018b4951