Keadaan membatasiku? Kata siapa?
No limit

Setiap manusia pasti punya keterbatasan, tapi kita punya Tuhan yang tidak terbatas. Dan Ia bisa membuat kita melakukan hal-hal yang tidak terbatas.


Terkadang kita berpikir:
"Andai aku seperti dia yang punya segalanya mungkin aku akan sukses",
"Andai hidup ku bebas tanpa ada masalah",
"Masalah ini membuatku tak bisa bangkit",
"Andai aku terlahir dari keluarga cemara mungkin aku akan jadi anak paling bahagia".
Sadar atau tidak saat seperti itu, kalian tengah menjadikan masalah-masalah hidup sebagai penghalang besar kesuksesan, sebagai alasan kamu ngga maju jangankan maju melangkah saja pun takut karena keterbatasan yang telah tertanam dalam mindset kalian.

Misalkan seseorang mau berenang, namun ketika akan memulai dalam pikiran terbesit:
"Duh, dalem juga ya",
"Kayanya aku ngga bisa",
"Aku takut kan aku baru bisa renang",
"Bisa ngga yah, aku sampe ujung?"
"Gimana kalau aku tenggelam?"
(banyak kecemasan dalam pikiran kita).
Belum memulai pun kecemasan sudah terkumpul. Nah, coba kita lihat ini batasannya dimana pada kedalaman? pada kolam renang? atau pada diri kita sendiri?

Apa sih batasan itu? Batasan adalah sekat-sekat yang kita buat sendiri. Contohnya sekat kecemasan, sekat ketakutan, sekat ketidakmampuan yang sampai saat ini sekat tersebut belum bisa dilalui. Kita semua tahu, manusia memiliki keterbatasan. Bahkan manusia yang paling sempurna sekalipun pasti punya keterbatasan. Lalu dimana letak perbedaan antara orang yang gagal dan berhasil? Itu semua tidak selalu mengenai kepintaran, kekuatan, kemahiran, passions. Walaupun itu dibutuhkan sebagai faktor pendukung. Letak perbedaannya adalah TEKAD. Tekad untuk memulai, tekad untuk terus berjuang, dan tekad untuk menyelesaikan. Sama seperti batu, sekalipun batu itu keras tapi jika air terus menerus mengenai batu akhirnya cekung juga. Begitu juga dengan tekad, diperlukan ketekunan serta hati yang kuat.

Bagaimana kita memiliki hati yang kuat? Tuhan selalu membantu hamba-Nya keluar dari keterbatasan hidup. Yang berdosa kemudian bertaubat akhirnya memiliki kehidupan yang baru. Yang sebelumnya tidak memiliki semangat mewujudkan mimpi jadi semangat bahkan menemukan cara-cara baru untuk mewujudkan mimpinya. Kekusasaan-Nya tidak dapat dibatasi untuk menolong hamba-Nya. Hanya orang berhati besar yang mampu menangani permasalahan karena ia mampu melihat masalah dari sisi yang berbeda. Ia mejadikan kegagalannya sebagai ajang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan hubungan dengan Tuhan.

Sering kita melihat orang yang senantiasa berusaha walaupun gagal berkali-kali. Apa motivasi mereka bisa tetap tegar dan terus berusaha? Jawabannya sederhana CINTA itulah kuncinya. Kekuatan cinta yang bisa mengalahkan segala batasannya. Sekat yang besar sekalipun mampu dilewati jika kita punya kekuatan ini. Lakukanlah segala sesuatu dengan cinta yang besar, karena jika kita punya hati dan cinta yang kuat apapun bisa kita lakukan (langkah kita kedepan punya tujuan). Bukan cinta yang setengah-setengah yang dapat menghasilkan hasil yang optimal, melainkan cinta yang sejati yang mampu mendatangkan hasil maksimal. Hanya ada 2 pilihan yakni lakukan segala sesuatu dengan cinta yang sejati atau jangan lakukan sama sekali.

Kehidupan manusia berputar. Ada saatnya kita berada di titik terendah, tidak mempunyai harapan. Bahkan kita bertanya pada diri sendiri:
"Masihkah ada harapan?"
"Masih adakah kesempatan?"
"Apa masih ada waktu untuk memperbaikinya?"
Percayalah selama kita hidup pasti akan selalu ada harapan.

Saat putus asa ingat ada Tuhan yang selalu ada untuk hamba-Nya. Ia selalu menunggu do'a-do'a mu terutama di sepertiga malam, kuasa-Nya mampu mengalahkan kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan yang ada pada diri kita. Kuasa-Nya mampu megalahkan itu semua. Manusia memang terbatas tapi kuasa-Nya tidak terbatas. Tidak ada yang bisa menghentikan manusia yang melangkah bersamaNya.


Hanya orang berhati besar yang mampu menangani permasalahan. Orang yang memiliki hati yang besar mampu melihat masalah dari sisi yang berbeda. Ia mejadikan kegagalannya sebagai ajang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan hubungan dengan Tuhan.


Tentang Penulis:
Nindya Khairunisa adalah siswi SMAN 1 Majalengka kelas XII.MIPA.8.