SISWA HOTS BERMETAKOGNITIF TINGGI

Pengantar dalam IHT Sekolah Rujukan di SMANSA Majalengka.


Berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh menuntut persaingan dan persyaratan tertentu di bidang pendidikan. Persaingan tersebut mencakup bidang teknologi, pengelolaan, dan penciptaan sumber daya manusia. Hal inilah yang menandakan bahwa dunia pendidikan sedang memasuki perkembangan di abad ke-21. Agar dapat bersaing dan mampu mengikuti perkembangan zaman tersebut diperlukan penguasaan teknologi dan selektif menggunakannya. Jika tidak demikian, maka seseorang akan tertinggal dan tergilas oleh kemajuan zaman. Selain itu, seseorang tidak tidak mampu bersaing karena tidak memiliki nilai tambah. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus mampu membekali para siswanya dengan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan karakter secara optimal.

Keterampilan yang harus dimiliki para siswa agar dapat bersaing dan mampu mengikuti perkembangan zaman tersebut di antaranya meningkatkan kualitas karakter yang mencakup kualitas iman dan taqwa, berinisiatif, gigih dan semangat, jiwa kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran sosial/budaya. Peningkatan kompetensi siswa dalam berpikir kritis/memecahkan masalah, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Selain itu, para siswa harus berliterasi dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan berbudaya literasi mencakup membaca, menulis, berhitung, sains, teknologi informasi, sosial dan budaya.

Saat ini kemajuan dunia pendidikan di Indonesia terus mengimbangi dan mengikuti kemajuan pendidikan di Asia dan Eropa. Hal ini ditandai dengan adanya berbagai perubahan inovasi program dan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai ajang bergensi tingkat dunia, seperti Olimpiade Sains, ISPRO, dan PISA. Hasil Olimpiade Sains Terapan Dunia, tim Indonesia meraih juara umum tahun 2015 yang diselenggarakan di Jakarta 4 Mei hingga 8 Mei. Dalam kompetisi itu Indonesia mengumpulkan 4 medali emas, 3 medali perak, dan 2 medali perunggu. Kemudian disusul Bosnia dan Herzegovina dan Tajikistan yang masing-masing memperoleh 1 medali emas, 2 medali perak, dan 1 perunggu. Hasil lainnya, negara Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 65 negara dalam ajang PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun disusul Maroco dan Ghana.

Layanan pendidikan yang berkualitas diawali dengan program sekolah yang berbudaya dan berkarakter. Jika sekolah sudah menciptakan lingkungan yang berbudaya dan berkarakter, maka kualitas pendidikan akan lebih baik sehingga tercipta pula kualitas sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing dengan siapa pun. Penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas harus diutamakan mengingat masa yang akan datang dihadapkan pada berbagai kesempatan dan tantangan yang bersifat nasional maupun global. Untuk mempersiapkan hal tersebut, beberapa sekolah tingkat menengah atas se-Indonesia mendapat program sekolah rujukan dari Direktorat Pendidikan SMA. Salah satu programnya adalah Gerakan Literasi Sekolah dan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui penyusunan soal HOTS (Hingher Order Thinking Skills).

HOTS merupakan kemampuan berpikir individu pada tingkat yang lebih tinggi, meliputi cara berpikir secara kritis, logis, metakognisi, dan kreatif. HOTS menunut siswa berpikir tingkat tinggi dalam suatu proses kognitif yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Proses berpikir terkait dengan ingatan, pengetahuan, memahami pada HOT memiliki porsi sangat kecil.

HOTS menghendaki cara belajar yang berbeda dan penilaian hasil belajar yang berbeda. Pembelajaran yang diharapkan pada HOTS adalah pembelajaran yang memberikan pengalaman berpikir tingkat tinggi, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Perilaku menganalisis menurut Anderson dan Krathwohl (2001) bisa diamati dari kemampuan siswa untuk menafsirkan elemen, prinsip-prinsip organisasi, struktur, konstruksi, hubungan internal, kualitas, keandalan komponen individu, dan menyeleksi hasil penerapannya. Perilaku mengevaluasi bisa diamati dari kemampuan siswa untuk menilai efektivitas seluruh konsep, dalam hubungannya dengan nilai-nilai output, khasiat, kelangsungan hidup; berpikir kritis, perbandingan strategis dan review; pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kriteria eksternal, dan mampu mengontrol. Sedangkan perilaku mencipta bisa diamati dari kemampuan siswa untuk mengembangkan struktur unik baru, sistem, model, pendekatan, ide-ide, dan berpikir kreatif terhadap sebuah operasi. Proses belajar dan pembelajaran yang menghasilkan pengalaman belajar demikian, tentunya memerlukan cara penilaian yang sesuai dengan proses belajar dan pembelajaran tersebut.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagaimana dikemukakan, memuat tiga komponen yaitu kemampuan berpikir (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta), kebiasaan berpikir (dicapai melalui pembelajaran HOTS) dan metakognitif (dicapai akibat pembiasaan pembelajaran HOTS). Siswa yang sudah memahami soal HOTS secara luas di samping membekali ilmu, juga membantu siswa mampu berpikir dan bernalar tinggi untuk mengontrol proses belajarnya sendiri. Belajar bagaimana belajar saat ini merupakan kebutuhan vital. Ketika seseorang mempelajari cara belajar, maka kepercayaan dan keyakinan akan meningkat. Kemandirian berpikir seperti ini merupakan keterampilan metakognitif yang diperoleh melalui proses belajar HOTS.

Dalam bentuk mengingat dan menyimpannya dalam skema seseorang, mengolah dan menggunakan pengetahuan yang sudah tersimpan, dan menghasilkan pengetahuan baru baik berupa fakta baru, konsep dan prosedur baru atau ketika menerapkan, menganalisis, menilai, atau ketika mencipta merupakan metakognitif. Metakognitif penting dilatihkan pada setiap pembelajaran untuk membekali siswa memiliki kesadaran, kontrol, dan mengelola perkembangan kognitifnya sendiri serta mampu memantau proses pembelajarannya sendiri, termasuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya untuk mempelajari berbagai pengetahuan.

HOTS yang dilatihkan secara terus-menerus melalui pembelajaran dapat membantu siswa mampu mentransfer pengetahuan untuk menyelesaikan masalah, berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah baik masalah belajar maupun masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu meningkatkan prestasi akademik maupun non akademik. Guru dapat mendorong tumbuhnya HOTS antara lain melalui pemberian tugas dan pertanyaan yang menantang. Pertanyaan yang memaksa siswa untuk terus berpikir, terus mencari tahu, “penasaran” terhadap penyelesaian tugas dan jawaban atas pertanyaan, tumbuhnya kepercayaan akan meningkatnya kemampuan mereka, danketika mereka terus menggali pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian dikaitkan dengan pengetahuan lain yang relevan untuk menemukan dan membangun fakta, konsep dan prosedur barudapat mendorong tumbuhnya HOTS.

Pemahaman dan hasil belajar akan meningkat jika siswa diberi kesempatan mengembangkan apa yang dipelajari di sekolah dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan ilmiah sebagaimana tercantum pada standar keterampilan di SKL (Standar Kompetensi Lulusan). Dengan demikian, pembelajaran HOTS dapat dilaksanakan antara lain dengan menggunakan pendekatan ilmiah/pendekatan saintifik. Tugas dan pertanyaan HOTS ini dapat memotivasi siswa memperkaya pengalaman belajar, baik aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan.