view (eye icon) image/svg+xml view April 2010 Franziska Sponsel Franziska Sponsel RRZE view eye see overview Beate Kaspar 1253 views

DILEMA SELEPAS LULUS SMA (DAN SEBELUM)


Oleh Diva Aulia Khusna Wardani

Belakangan ini, topik perbincangan ketika ketemu temen-temen berubah dari yang tadinya seputar rencana akhir pekan dan Money Heist Season 5 ke topik yang lebih serius kayak, “Mau lanjut kuliah kemana?” dan “Mau kerja apa?”. Serius deh, setiap ada yang nanya begitu, aku harap itu pertanyaan retoris. Karena diri sendiri juga bingung, akhirnya pilih opsi “Phone-a-Friend” yang akhirnya dapet jawaban “Pilih yang sesuai passion kamu aja”. Tapi, habis itu malah lebih bingung karena belum tau gairahnya apa dan kali ini gak ada opsi lain kecuali nanya ke diri sendiri.

Kayaknya setiap ngobrol tentang jurusan perkuliahan, pertanyaan yang sering muncul buat pertimbangan adalah “Prospek kerjanya bagus gak?”. Hal ini yang paling bikin bingung menentukan jurusan kuliah. Mau masuk jurusan A karena aku suka tapi takut nanti susah nyari kerja, mau masuk jurusan B karena masa depan terjamin tapi takut bakal nyesel karena kerjaannya yang membosankan. Sampe akhirnya aku baca essay tulisan Mary Schmich yang judulnya Everybody’s Free (To Wear Sunscreen). Salah satu isinya yang bilang, “Don’t feel guilty if you don’t know what you want to do with your life. The most interesting people I know didn’t know at 22 what they wanted to do with their lives. Some of the most interesting 40-year-olds I know still don’t” bener-bener sebuah eye-opener bahwa gak apa-apa kok untuk merasa bingung. Akhirnya, aku percaya bahwa bekerja itu bukan cuma tentang gimana caranya biar bisa dapet upah, tapi juga tentang apa yang dikerjakan.

Waktu masih kecil dulu, kebanyakan dari kita (kalau gak semua) pasti suka main. Entah main masak-masakan, jual-jualan, dokter-dokteran, guru-guruan, sampe pura-pura jadi pemain sinetron yang ditonton kemarin siang. Sadar gak sih, kalau hal-hal yang dulu asik banget kita lakuin sebagai anak kecil sebenernya dilakuin juga sama orang dewasa, cuma yang bikin beda adalah kita pura-pura aja. Terus kenapa kita sekarang masih bingung mau jadi apa? Kenapa takut bakal salah pilih jurusan dan menentukan jalan hidup? Padahal waktu masih kecil, banyak pekerjaan yang kita lakuin buat bersenang-senang dan harusnya gak susah dong buat kita untuk tau mana yang lebih kita suka. Banyak orang yang merasa bingung karena takut salah jurusan. Seringnya, orang-orang yang sekarang paling berhasil di bidangnya adalah orang-orang yang karirnya menemui banyak kelok. Mereka pergi ke sekolah untuk belajar A, drop out dan kerja di bidang B, sampe akhirnya berhasil di bidang C setelah melalui banyak hal. Masalahnya, banyak orang yang percaya bahwa gak masalah untuk drop out dari sekolah, Mark Zuckerberg aja berhasil jadi orang besar kok. Padahal, drop out bisa terjadi karena dua hal yang sangat jauh berbeda. Entah karena kamu ingin loncat ke bidang lain dan mengejar mimpi kamu yang baru atau karena emang pada dasarnya udah gak ada semangat untuk ngejar mimpi. Tapi, selalu inget untuk jangan takut salah jurusan.

Seberapa besar sih kita harus suka sama pekerjaan kita kelak? Kebanyakan orang ngeremehin pertanyaan itu dan berhenti nyari jawabannya. Berakhir milih pekerjaan yang didasari oleh keinginan menghasilkan rupiah dan gengsi. Padahal, lakuin apa yang kamu suka bukan berarti lakuin apa yang lagi kamu suka saat ini, pada detik ini. Bahkan kalau sekarang aku dihadapkan dengan dua pilihan untuk sibuk ngerjain sesuatu selama dua jam kedepan atau untuk teleportasi ke Sisilia dan nyeruput macchiato, aku gak tau bakal milih apa. Mungkin ada beberapa yang bakal milih pergi ke Sisilia, tapi percaya deh, setelah waktu berlalu, pasti bakal bosen juga kalau terus-terusan liburan. Kalau kamu mau terus ngerasain kesenangan dari liburan, kamu harus ngelakuin sesuatu yang lain selain liburan. Dari hal itu, aku percaya bahwa maksud dari lakuin apa yang kamu suka adalah bukan untuk lakuin apa yang bakal bikin kamu seneng detik ini atau selama 5 menit kedepan aja, tapi untuk lakuin apa yang bakal bikin kamu seneng setelah beberapa waktu, misalnya seminggu atau sebulan kemudian. Makanya, untuk jawab pertanyaan di awal paragraf tadi, kayaknya aku bakal jawab bahwa kita harus suka sama pekerjaan kita lebih dari kita suka liburan ke Sisilia. Bukan cuma menikmati, tapi juga mengagumi. Bukan berarti harus punya pekerjaan yang bisa disombongin, tapi seenggaknya kalau pun pekerjaannya melelahkan, pada akhirnya kamu bisa bilang, “Keren juga, ya”.

Hal terakhir yang harus kita pedulikan tentang pekerjaan kita kelak adalah apa pendapat orang lain tentang itu. Gak usah peduli sama gengsi, gengsi cuma bakal bikin kamu memilih pekerjaan bukan atas dasar pekerjaan apa yang kamu suka, tapi apa yang kamu pikir kamu akan suka. Sama halnya kayak jadi seorang musisi. Banyak orang suka denger musik, kagum sama penghargaan yang didapat si penyanyi. “Kayaknya keren kali ya jadi artis”. Padahal, untuk jadi seorang penyanyi yang hebat, kamu juga harus menikmati pekerjaan itu yang tentunya bakal butuh usaha dan kerja keras buat berhasil. Apapun pekerjannya, kalau kamu lakukan dengan baik, pasti bakal bergengsi kok. Jadi, kalau nanti merasa bimbang untuk memilih antara jurusan A yang lebih bergengsi dari jurusan B dan kamu sama-sama suka sama dua-duanya, kayaknya kamu lebih cenderung suka sama jurusan B deh. Soalnya, bobot pertimbangan kamu di jurusan A kebanyakan dipengaruhi sama gengsi itu sendiri.

Tentunya, sebelum menentukan pilihan mau lanjut kemana, hal paling pertama dan krusial yang harus banget kita lakuin adalah ngobrol sama orang tua. Pengalaman orang tua kita adalah sesuatu yang kita gak punya dan kita gak punya gambaran tentang hal itu. Orang tua pasti mempertimbangkan gimana untuk kedepannya, apa yang terbaik buat kita, mana yang bakal menjamin masa depan kita, pokoknya paling tau deh langkah apa yang harus kita ambil. Setelah dapet saran dan wejangan, diarahkan masuk kemana, kadang beberapa diantara kita ada yang masih belum plong. Jadi, kalau kamu termasuk salah satu diantara yang belum plong, inget kalau kamu punya dua pilihan. Pertama adalah untuk ikut saran dari orang tua walaupun itu gak sesuai passion kamu, karena prospek kerjanya bagus dan kalau kamu berhasil, kamu bisa gunain penghasilan kamu untuk ngelakuin hobi yang kamu suka di waktu senggang. Kedua adalah ikutin passion kamu walaupun kurang menjamin, lalu secara bertahap cari cara biar bisa unggul. Terus, mana yang harus kamu ambil? Semuanya tergantung sama seberapa yakin kamu sama apa yang kamu ingin lakukan, seberapa besar risiko yang berani kamu ambil, dan peluang bahwa pekerjaan kamu akan dihargai oleh orang-orang jadi kamu gak perlu khawatir tentang kemakmuran hidup kamu kedepannya.

Jangan buru-buru ambil keputusan. Gak mau kan ngerasa nyesel di kemudian hari karena keputusan gegabah yang diambil buru-buru sama anak SMA? Apapun yang kamu lakuin kedepannya, jangan berharap bakal mulus-mulus aja. Siap-siap hadapin tantangan. Sukses buat anak-anak Smansa Majalengka!

One Reply to “DILEMA SELEPAS LULUS SMA (DAN SEBELUM)”

  1. A job is a work to be your happy life. Not abot money to make you to be rich but about you enjoy and make you pleasure, honey….
    I hope you find a walk away, don’t forget pray to God, God bless you.
    (Maaf kalo berantakan, karena bukan ibu ahlinya, ibu hanya bisa berdoa dan mendukungmu, temukan arti hidup yang sesungguhnya untuk bahagia lahir batin dunia akhirat).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *